"There's a wide, wide world out there, Father, and so many things I want to learn and see an do. If you can share in your son's dreams, why can't you share in mine too? Don't keep me caged in now, let me have my chance to fly out too!"
Mungkin, di antara kalian ada yang pernah baca/dengar kalimat ini. Kalimat ini aku kutip dari buku Bahasa Inggrisku. Di situ ada sebuah kutipan cerita yang diambil dari sebuah novel berjudul "Sing To The Dawn," karya Minfong Ho. Aku sangat suka sekali membaca cerita tersebut, terutama di bagian kalimat tersebut.
Pendek ceritanya begini, suatu hari seorang anak perempuan bernama Dawan, mendapatkan beasiswa untuk lanjut sekolah di kota. Ia mempunyai saudara laki-laki bernama Kwai, yang tidak mendapatkan beasiswa. Awalnya, Kwai benci karena saudara perempuannya akan pergi melanjutkan sekolahnya ke kota, tetapi akhirnya Kwai merelakan Dawan pergi ke kota.
Sayangnya, ketika mereka memberitahu tentang hal itu kepada ayah mereka, Dawan tidak diizinkan pergi ke kota. Ayahnya menginginkan Kwai-lah yang pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikan. Ayahnya tak suka apabila anak perempuannya sekolah. Menurutnya, menyekolahkan anak perempuan itu tak berguna. Tetapi Dawan terus memberontak, melawan ayahnya. Dan pada akhirnya, Dawan pun berhasil membuat ayahnyya bisa mengizinkannya untuk pergi ke kota, tetapi masih dengan berat hati.
Dari cerita tersebut, kita diajarkan bahwa sudah tidak zamannya lagi untuk yang namanya pen-diskriminasi-an, baik melalui suku, agama, ras, bangsa, status sosial, maupun jenis kelamin. Apalagi ini dalam mendapatkan pendidikan. Yang kedua, kita diajarkan agar tidak boleh menyerah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Lihatlah Dawan, ia berjuang agar ayahnya mau memberikan izin kepadanya untuk pergi ke kota demi mendapatkan pendidikan, dan akhirnya ayahnya pun memberi izin.
Saturday, October 6, 2012
Saturday, September 29, 2012
The Photos of My Holiday with Anastasya and Alexandra
Heyyy.. Now I wanna share my photos on my holiday 3 months ago with my junior high school's friends, Anastasya and Alexandra in the old-fashioned places in Medan. At the time, we went to PT. London Sumatera, Tbk (unfortunately, we were not allowed to enter the building), Tjong A Fie mansion, and Merdeka field.
I will never forget it, guys...
![]() | |
| The background was the PT. London Sumatera Indonesia, Tbk. |
![]() |
| Anastasya (left) and Alexandra (right) |
![]() |
| In dancing room, Tjong A Fie mansion |
![]() |
| Tjong A Fie |
![]() |
| In the living room that devoted to the Deli Kingdoms's family |
![]() |
| Alexandra tried to use the old-fashioned telephone. |
![]() |
| Anastasya and Alexandra tried to open the door of Tjong A Fie mansion |
![]() |
| I was at the gate of Tjong A Fie mansion |
![]() |
| Alexandra and Anastasya in the Merdeka field |
Saturday, September 22, 2012
New Class (again)
Tak terasa, aku sudah 22 hari di kelas baruku di SMA Sutomo, X-01. Aku dipindah karena pas PB 1 kemarin, semcam ujian bulanan, nilaiku hampir bagus semua. Yang buat hampirnya itu karena pelajaran mandarinku. Mandarinku nilainya 55. Although I got 55 in Mandarin, I still could entered the X-1.
X-1 adalah kelas plus di SMA Sutomo 1, artinya hanya orang-orang yang bisa dibilang pintar-lah yang bisa masuk kelas ini (gak bermaksud sombong). Kelas ini bisa dibilang kelasnya orang pintar nomor 2 setelah kelas akselerasi. Praise The Lord! Kelas plus ini tetep masa belajarnya 3 tahun, cuma murid-murid kelas plus ini nantinya akan mengikuti ujian SAT saat kelas 3, sehingga sudah dipersiapkan dari kelas 1 sekarang.
Tanggal 1 September kemarin, aku pun mulai memasuki kelas ini. Awalnya aku ngerasa sedih karena belum punya temen di sana, apalagi di sana hampir semua orang Cina. Bayangin saja, dari 55 orang, hanya 2 orang yang pribumi. Untunglah, aku duduk sama orang yang dipindahin juga kayak aku. Dia berasal dari X-21, aku dari X-20, jadi aku punya temen bicara.
Setelah 22 hari bersama teman-teman baruku, emmm... aku masih belum terlalu dekat dengan mereka. Bahkan, ketika istirahat pun aku mau pergi ke kelas tempat teman-temanku dulu. Even though I feel tired to go to their class ini 5th floor (my class in 1st floor), I don't care about it. The important for me is to get the communication.
Oiya, di awal-awal aku masuk kelas ini, aku shock berat karena pelajaran yang ada di X-1 tidak sama dengan yang ada di kelasku, mereka sudah melewati pelajaran yang masih ku pelajari di kelasku dulu dan gurunya pun langsung lanjut saja. Mungkin karena 41 orang memang berasal dari kelas ini, gurunya langsung lanjut saja. Fortunately, I have a course, so I can follow the lesson.
Selain itu, murid-murid di sana ributnya parah. Beda sekali dengan kelasku yang dulu. Dulu di kelasku, kalau guru sedang ngajar, kami semua diam memperhatikan. Sedangkan di kelas ini, kalau guru ngajar, mereka ribut sekali, aku pun tak tahu apa yang mereka omongi, karena mereka memakai bahasa hokkien.
Huh.. susah memang jadi kaum minoritas di kelas ini, udah aku orang pribumi, pendatang di kelas ini lagi. Semoga ke depannya, aku bisa beradaptasi dengan mereka semua dan segala sesuatunya di kelas baruku ini. Amin.
X-1 adalah kelas plus di SMA Sutomo 1, artinya hanya orang-orang yang bisa dibilang pintar-lah yang bisa masuk kelas ini (gak bermaksud sombong). Kelas ini bisa dibilang kelasnya orang pintar nomor 2 setelah kelas akselerasi. Praise The Lord! Kelas plus ini tetep masa belajarnya 3 tahun, cuma murid-murid kelas plus ini nantinya akan mengikuti ujian SAT saat kelas 3, sehingga sudah dipersiapkan dari kelas 1 sekarang.
Tanggal 1 September kemarin, aku pun mulai memasuki kelas ini. Awalnya aku ngerasa sedih karena belum punya temen di sana, apalagi di sana hampir semua orang Cina. Bayangin saja, dari 55 orang, hanya 2 orang yang pribumi. Untunglah, aku duduk sama orang yang dipindahin juga kayak aku. Dia berasal dari X-21, aku dari X-20, jadi aku punya temen bicara.
Setelah 22 hari bersama teman-teman baruku, emmm... aku masih belum terlalu dekat dengan mereka. Bahkan, ketika istirahat pun aku mau pergi ke kelas tempat teman-temanku dulu. Even though I feel tired to go to their class ini 5th floor (my class in 1st floor), I don't care about it. The important for me is to get the communication.
Oiya, di awal-awal aku masuk kelas ini, aku shock berat karena pelajaran yang ada di X-1 tidak sama dengan yang ada di kelasku, mereka sudah melewati pelajaran yang masih ku pelajari di kelasku dulu dan gurunya pun langsung lanjut saja. Mungkin karena 41 orang memang berasal dari kelas ini, gurunya langsung lanjut saja. Fortunately, I have a course, so I can follow the lesson.
Selain itu, murid-murid di sana ributnya parah. Beda sekali dengan kelasku yang dulu. Dulu di kelasku, kalau guru sedang ngajar, kami semua diam memperhatikan. Sedangkan di kelas ini, kalau guru ngajar, mereka ribut sekali, aku pun tak tahu apa yang mereka omongi, karena mereka memakai bahasa hokkien.
Huh.. susah memang jadi kaum minoritas di kelas ini, udah aku orang pribumi, pendatang di kelas ini lagi. Semoga ke depannya, aku bisa beradaptasi dengan mereka semua dan segala sesuatunya di kelas baruku ini. Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)















