Showing posts with label Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Sekolah. Show all posts

Monday, January 9, 2017

Mencari Secercah Harapan Menuju Perguruan Tinggi

Hari ini saya datang ke tempat bimbel saya dulu dengan tujuan untuk memotivasi adik-adik yang akan mengikuti berbagai ujian untuk mendapatkan bangku di perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi negeri (PTN). Sangat senang rasanya bisa kembali ke tempat ini dengan status sebagai mahasiswa ITB. Ketika saya mulai memijakkan kaki di tempat ini, memori-memori saya di tempat ini bersama tentor-tentor dan teman-teman seperjuangan mulai bermunculan. Ada banyak sekali kenangan-kenangan suka maupun duka di sini bersama mereka, tertawa bersama, berdoa bersama bahkan menangis bersama karena rasanya tidak kuat dengan beban yang semakin berat menghadapi ujian masuk PTN dulu.

Saat saya dan teman-teman saya diberi kesempatan untuk berbicara dengan adik-adik disana, kami memulainya dengan perkenalan dan bertanya, akan kemana mereka melanjutkan studinya. Banyak yang menjawab ingin masuk ITB, ada pula yang ingin masuk UI, UGM! Semua yang mereka sebutkan merupakan universitas favorit di negeri ini. Saya pun mulai bercerita bahwa saya sempat ketinggalan setahun oleh teman-teman saya yang membuat saya sedikit cemburu ketika melihat teman-teman saya sudah memakai jaket almamater universitas mereka, pergi dengan baju bebas dan pulang ke kos masing-masing hingga larut malam karena mengerjakan tugas. Bermula dari situ yang membuat tekad saya untuk lebih serius dengan tahun "perjuangan" saya. 

Ketika semester dua dimulai, saya semakin merasa tertekan dengan beban-beban yang ada pada saya. Walaupun saat itu masih bulan Januari, tapi saya sudah mulai merasakan atmosfer perang untuk mendapatkan kursi di PTN. Keluarga saya pun sangat berharap kepada saya karena saya adalah anak terakhir di keluarga saya dan ketiga kakak-abang saya sudah duduk di PTN-PTN yang cukup diminati oleh seluruh penjuru negeri. Jujur selama semester satu, ketika saya berdoa setiap malam, saya sering menyucurkan air mata, tetapi entah kenapa saat semester dua itu tak ada sedikit pun air mata yang menetes, rasanya perjuangan yang semakin berat itu tak tertangisi lagi oleh saya.

Hari demi hari berlalu, saat pengumuman I undangan (masuk tidaknya saya ke dalam 75% ranking paralel), saya dinyatakan tidak lulus. Dari situ, saya mulai menambah semangat belajar saya, tak lupa saya terus berdoa kepada Tuhan agar Ia memberikan yang terbaik kepada saya. Ketika melihat teman-teman saya yang lulus undangan, ada rasa sedikit "down' memang karena dulunya saya sering belajar bersama mereka, kini saya hanya belajar dengan beberapa orang saja, bahkan sempat sendiri. Sakit rasanya memang, tapi saya percaya Tuhan memiliki rencana yang besar buat saya.

Rasanya memang usaha saya sudah cukup besar, banyak orang yang mengatakan saya bahkan gila karena jam belajar saya hampir 24 jam, rumah hanya sebagai tempat singgah untuk tidur dan mandi yang semuanya jika dihitung hanya sekitar 5-6 jam saja di sana, selebihnya saya habiskan waktu di sekolah dan bimbel, begitu setiap harinya. Tetapi, saya juga cukup kecewa dengan hasil SBMPTN saya ketika diperiksa oleh tentor-tentor saya pada hari yang sama dengan ujian SBMPTN tersebut. Saya kira saya pasti tidak lulus. Kalau lulus, pasti di pilihan kedua atau ketiga.

Salah satu tentor saya pernah berkata di hari saya terakhir belajar di bimbel saya, "Apabila Tuhan telah membukakan pintu bagi kamu, tidak akan ada yang bisa menutupnya. Apabila Tuhan telah mengangkat kamu, tidak akan ada yang bisa menurunkanmu. Percayalah kepada-Nya." Puji Tuhan, mujizat itu nyata! Pernyataan dari tentor saya tersebut benar adanya dan kini saya lulus di FTI ITB melalui jalur SBMPTN.

Dulu saya sempat bergumul memang untuk mengambil jurusan IPA, IPS, atau IPC di ujian masuk PTN ini. Setelah saya mendoakannya, saya memilih jurusan IPA di SBMPTN dengan pilihan pertama FTI ITB dan IPC di Utul UGM dengan pilihan pertama HI. Setelah menjalani kedua ujian tersebut, saya merasa saya lebih bisa mengerjakan soal Utul UGM tersebut dan merasa percaya diri untuk masuk di Hubungan Internasional atau at least pilihan kedua (Teknik Industri) atau ketiga saya (Ilmu Komunikasi). Ternyata Tuhan memilihkan saya yang terbaik untuk lulus di SBMPTN dengan pilihan pertama saya dan Ia tidak membuat saya bingung lagi dengan tidak meluluskan saya di Utul UGM. Sampai saat ini saya memang merasa FTI merupakan pilihan terbaik buat saya dan saya sangat senang berada di sini.

Saya juga sempat bilang ke adik-adik tersebut untuk mulai mencari jurusan yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka dari sekarang karena memilih jurusan sangatlah lama menurut saya. Setelah itu mulai  didoakan dan tak lupa untuk bilang ke orang tua pilihan mereka dan alasan memilihnya. Dukungan orang tua juga sangat kita perlukan. Puji Tuhan orang tua saya selalu mendukung saya apapun pilihan saya kalau memang menurut saya itu yang terbaik, Tetapi saya juga sempat menceritakan teman saya yang ingin sekali masuk suatu jurusan tetapi kedua orang tuanya kurang setuju dengan pilihan tersebut. Akhirnya dia memang tidak masuk ke jurusan yang diinginkannya, malah lulus di pilihan yang diinginkan oleh orang tuanya.

Mendekatkan diri dengan Yang Mahakuasa juga harus mulai dibina semenjak sekarang. Ini memang bukan berarti di saat mendesak seperti ini saja kita mulai melakukan ini, tapi memang sudah seharusnya kita mulai melakukannya dengan segala kerendahan diri dan ketidakmampuan kita di hadapan-Nya. Saya percaya kekuatan saya bisa bertahan menghadapi segala tantangan tahun lalu itu karena ada Tuhan yang selalu menyertai saya, ada Tuhan yang selalu menopang, menghibur dan mendengarkan segala doa-doa saya yang selalu saya panjatkan setiap harinya.

Rasa sepele atau memandang sesuatu/seseorang dengan sebelah mata pun harus mulai kita hindari, Seringkali yang saya temukan di tempat bimbel saya memang banyak yang sepele dengan mata pelajaran di luar Matematika, Fisika, Kimia. Tetapi saya mulai mengajak untuk berpikir lebih panjang dengan kehidupan yang akan dihadapi di masa depan. Berdasarkan apa yang telah saya alami di ITB selama satu semester dan mendapat mata kuliah Tata Tulis Karya Ilmiah (Bahasa Indonesia), suatu hal yang sangat disesali jika tidak belajar Bahasa Indonesia dengan serius dulu di bimbel. Saya juga punya teman yang sempat disepelekan oleh tentor-tentor saya karena nilai-nilai TO-nya selalu jelek dan ia juga cukup sering dikatakan kurang serius, bahkan ada tentor yang meragukan kemampuannya untuk menghadapi ujian SBMPTN. Tetapi Tuhan telah membalikkan pikiran-pikiran manusia, nilai SBMPTN-nya jauh lebih tinggi daripada saya, bahkan saya rasa ia mampu masuk STEI ITB yang memiliki passing grade tertinggi se-Indonesia.

Akhirnya, saya dan teman-teman saya membuka sesi pertanyaan dengan adik-adik tersebut. Banyak sekali yang bertanya mengenai jalur undangan. Siapa memang yang tidak ingin lulus melalui jalur undangan? Semua orang ingin. Tapi saya juga ingin berpesan untuk tetap mempersiapkan diri dengan hal-hal terburuk yang akan dihadapi.

Ada banyak hal-hal yang saya alami, saya dengar selama satu tahun tersebut. Satu tahun itu memang sangat mendewasakan saya sehingga saya benar-benar siap untuk memasuki dunia baru, dunia kampus. Saya berharap dengan cerita-cerita itu, semoga mereka semua tetap bersemangat hingga "kemenangan" mereka tiba.



Medan, 9 Januari 2017

Wednesday, December 21, 2016

Stereotypes (Again)

Satu semester berkuliah di kampus gajah telah berakhir. Walaupun kurang dari enam bulan, banyak sekali kisah-kisah yang telah saya lalui, entah itu kisah sedih ataupun bahagia. Salah satu dari kisah-kisah tersebut adalah mengenai stereotype orang-orang atau lebih tepatnya, teman-teman baru saya di sini yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia terhadap kota dan sekolah asal saya.

Seperti yang kalian tahu, saya berasal dari Kota Medan dan beberapa orang bertanya kepada saya:
1. Kok lu gak ada aksen Medan-nya kaya orang-orang Medan lainnya atau kaya ... (nyebutin nama teman saya yang juga dari Medan)?
Saya cukup kesal sih, emang semua orang Medan harus punya aksen yang "batak" banget ya? Hhmm..

2. Kok lu pake 'lu-gua' juga sih?
Well, dari SMA, saya sebenernya udah pake 'lu-gua' karena suku Tionghoa yang merupakan mayoritas di SMA saya memakai 'lu-gua' juga atau lebih tepatnya kita lebih memakai 'lu-wa' sih HEHEH.

3. Di Medan banyak mall ga sih?
4. Medan itu dimana ya?
Kedua pertanyaan terakhir mungkin tidak perlu saya respon di sini.

Kemudian, beberapa orang juga bertanya saya berasal dari sekolah mana. Ketika saya bilang saya dari SMA Sutomo 1, mereka langsung bertanya:
1. Kamu Buddha?
2. Kamu kenapa ikut PMK (organisasi mahasiswa Kristen)? Kok gak ikut KMB (organisasi mahasiswa Budha)?
Saya tau memang kebanyakan siswa/i dari sekolah saya yang masuk ITB kebanyakan beragama Budha dan ikut KMB, tapi bukan berarti semuanya kan. SMA saya merupakan sekolah nasional yang tidak memihak pada agama manapun. Bahkan dari sekolah saya yang masuk kampus gajah ini juga ada yang Muslim, anyway.

3. Kamu Chinese ya?
OH PLEASE, ku ingin menangos.

4. Kamu pasti pinter! Ajarin dong.
Huft :(

Selamat Liburan Teman-Teman!

Thursday, October 27, 2016

Welcome to Campus' Life :)

Sang fajar telah mulai bersinar...
Burung-burung nan indah mulai berkicau..
Sejuknya udara mulai menyelimuti sekujur tubuhku..
Selamat pagi, Bandungku!

Beberapa bulan yang lalu, setelah melewati berbagai rintangan, puji Tuhan aku mendapatkan pengumuman bahwa diriku diterima di salah satu institut terbaik yang dimiliki bangsa ini, yang banyak melahirkan penggerak-penggerak kemajuan Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Siapa yang tidak mau berkuliah di ITB?
Banyak orang bilang, mahasiswa-mahasiswa ITB merupakan pemuda-pemuda terbaik yang dimiliki bangsa ini. Banyak orang bilang, mahasiswa ITB merupakan pemuda-pemuda beruntung karena bisa mengenyam pendidikan terbaik. Banyak orang bilang, mahasiswa ITB merupakan pemuda-pemuda yang akan menjadi bagian dari sejarah kemajuan Indonesia. Benarkah?

Setelah merasakan menjadi mahasiswa, yang katanya, institut terbaik bangsa beberapa bulan ini, aku memang banyak belajar hal-hal baru lagi. Karena kebutuhan yang mendesak, aku harus belajar memasak, menyuci, membersihkan, mengatur waktu dan mengontrol diri. Aku benar-benar dituntut menjadi pribadi yang mandiri, yang kelak akhirnya juga hidup tidak terikat dengan orang lain.

Beradaptasi dengan kehidupan kampus yang menuntut menjadi insan yang unggul dalam pelajaran maupun kegiatan nonakademik membuat aku cukup kewalahan menghadapinya, sesuatu yang benar-benar baru bagiku. Terkadang, berfokus dalam satu hal saja itu salah, berfokus pada banyak hal juga salah. Kita memang benar-benar dituntut menjadi orang yang mampu beradaptasi dengan segala lingkungan, segala keadaan, dan segala manusia,

Sistem belajar di perkuliahan yang sangat berbeda dengan dulu juga tak luput menjadi sebuah tekanan bagiku, Memahami pelajaran di kelas tidaklah cukup bagi mahasiswa, Kita harus benar-benar menumbuhkan kesadaran dalam diri untuk terus haus akan ilmu. Buat orang yang dulu bisa menyombongkan diri akan kepintarannya di antara teman-temannya yang lain, mungkin perlu berpikir ulang lagi untuk menyombongkan diri ketika sudah terikat menjadi bagian dari kawah ganesha ini.

Saat ini, setiap orang benar-benar dituntut menjadi orang yang visioner, terutama dalam hal pekerjaan, Banyak orang mulai memperluas relasinya dengan yang lebih tua maupun lebih muda, dengan orang yang berbeda latar belakang, dengan orang yang berbeda sifat, perilaku  dan mulai mengurangi rasa ego sendiri serta memusuhi orang yang tidak disukai seperti dulu saat masih di bangku sekolah, siapa yang tahu masa depan kita?

Kuliah di ITB bukanlah hal yang mudah. Banyak orang bilang, masuk sulit, di dalam sulit, keluar pun sulit juga. Doakan kami, para pengemban misi menuju Indonesia yang lebih baik!

Tuesday, July 12, 2016

Het leven na het uitwisselingsjaar

Bonjour.

Kalau kamu bertanya tentang pertukaran pelajar kepada orang-orang yang sudah pernah mengikutinya, bisa-bisa mereka lupa waktu menceritakan banyak hal. Tahun tersebut memang tidak akan pernah dilupakan. Hari ini saya tidak akan bercerita tentang tahun pertukaran pelajar saya - ya, saya memang harus move on dari masa lalu - tetapi saya akan menceritakan how my life is after that year here, in my first home, Indonesia.

Ada begitu banyak rasa yang bercampur aduk dalam diri saya ketika kembali ke rumah saya dulu. Kesal. Bahagia. Sedih. Satu bulan pertama memang merupakan waktu yang sangat rapuh bagiku. Sering kali saya chat dengan salah satu volunteer AFS yang ada di chapter saya. Banyak hal yang masih belum saya terima. Satu tahun memang kalau dipikir-pikir cukup lama karena ada banyak sekali perubahan yang terjadi di sekitar lingkungan saya, baik bangunan-bangunan yang mulai bertambah maupun orang-orang yang memiliki banyak perubahan sifat. Tetapi memang bukan mereka saja yang berubah, banyak orang pun yang mengatakan bahwa saya juga telah banyak berubah.

Sekolah, tempat saya menimba ilmu setiap hari. Saya memang takut awalnya untuk memulai hari-hari di sekolah kembali. Saya takut tidak punya teman - ya, saya sekarang sadar bahwa saya bukan tipe orang yang gampang diajak berteman. Saya takut lupa akan banyak hal akan pelajaran-pelajaran kelas satu dan dua dulu sehingga menunjukkan bahwa sepertinya siswa pertukaran pelajar itu bodoh dan sia-sia mengikutinya. Ada banyak orang memang yang langsung berpikiran jelek terhadap pertukaran pelajar, tapi itu membuat saya semakin sadar bahwa setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda akan sesuatu hal. Berkali-kali pula saya mencoba meluruskan apa yang terjadi dengan pikiran-pikiran antara saya dan orang-orang tersebut.

Di sekolah ada begitu banyak tawaran-tawaran menarik yang datang silih berganti ke kehidupan saya. Maksud saya, seperti tawaran untuk menjadi anggota OSIS kembali, ikut ekstrakurikuler ini itu, dsb. Jujur sebelum pergi ke Belgia, saya memang orang yang aktif di sekolah. Tapi kali ini saya mencoba untuk menolak semua tawaran itu. Yang saya pikirkan adalah saya harus menata kembali kehidupan saya - bukan berarti kehidupan saya dulunya berantakan, tapi maksudnya membuat kehidupan yang saya inginkan. Saya harus fokus ke depan, berpikir bahwa sudah saatnya saya harus lulus dari bangku sekolah ini. Melihat teman-teman saya dulu yang sudah kuliah memang menyakitkan, menyedihkan. Saya semakin terpacu untuk bisa mengejar mereka. Saya pun akhirnya hanya mengikuti satu kegiatan di sekolah, kegiatan siswa Kristen di sekolah. Selain itu, hari-hari saya hanya dipenuhi belajar dan belajar, di sekolah, di rumah, maupun di tempat bimbel.

Pikiran yang menginginkan untuk lulus secepatnya memang berhasil membuat saya mulai melupakan kehidupan di Belgia. Air mata sudah mulai tidak jatuh lagi ketika mengingat-ingat kehidupan saya dulu di Belgia. Beberapa kali memang saya sudah melakukan video call dengan keluarga angkat saya untuk melepaskan rasa rindu kepada mereka. Selain itu, saling mengirim surel pun kami lakukan. Di sosial media pun kadang saya berinteraksi dengan keluarga angkat dan teman-teman saya. Tapi pikiran tersebut juga seperti membuat gap antara saya dan teman-teman baru saya. Sepertinya saya memang "kuper" tahun ini. Saya hanya mengenal teman-teman sekelas saya yang baru dengan baik. Selebihnya, hanya teman-teman dari kelas lain yang sebimbel dengan saya yang saya kenal. Hm, saya memang sadar sepertinya hidup saya berubah 180 derajat dengan yang dulu. Ada memang rasa penyesalan akan gap yang terjadi ini, saya memang tidak terlalu dekat dengan mereka, berbagai acara yang sering mereka buat pun jarang, bahkan hampir tidak pernah saya ikuti karena bentrokan dengan jadwal saya bimbel. Saya memang lebih mementingkan kehidupan di bimbel daripada di sekolah tahun ini.

Kedatangan saya ke kelas baru ini memang menambah warna baru bagi mereka, kata mereka. Saya bersyukur karena walaupun saya sulit memulai pertemanan, kalau sudah namanya teman, saya tidak sungkan-sungkan untuk langsung bercerita panjang lebar, bercanda tawa sepuasnya dengan mereka. Akhirnya memang yang dulunya mereka kurang kompak dan banyak yang ngegrup, mereka kekompakannya mulai terlihat dan gap-nya mulai berkurang. Ironis memang apabila melihat kelas yang sudah tahun terakhir tapi tidak kompak. Tidak sedikit memang di antara mereka yang ambisius banget untuk menjadi yang terbaik di kelas. Hal ini memang berbeda dengan kelas saya dulu, yang memang walaupun sama-sama di kelas IPA 1. Kalau dibandingkan, memang lebih kompak kelas yang dulu, bahkan bisa membuat saya iri. Tapi saya tetap bersyukur kok. Saya tetap bersyukur bisa memiliki teman baru dan belajar menerima kehidupan yang baru. Saya memang tidak akan mungkin mendapatkan semua yang saya inginkan. Usaha untuk membuat mereka kompak pun sedikit saya lakukan karena waktu saya di sekolah yang sangat sedikit. Saya tetap bersyukur bisa belajar tentang kehidupan (lagi) bersama mereka, orang-orang yang baru satu tahun ini saya kenal.

Akhirnya setelah satu tahun penuh perjuangan, saya bisa menyelesaikan sekolah saya dengan nilai-nilai yang cukup baik dan saya pun berhasil masuk ke salah satu perguruan tinggi favorit di Indonesia dengan jurusan yang memang saya inginkan satu tahun terakhir ini. Memori-memori saat kelas 3 memang tidak banyak, tapi setidaknya cukuplah untuk mengakhiri tahun terakhir saya duduk di bangku sekolah dengan seragam putih abu-abu. Saya memang sudah mulai menerima akan segala hal yang terjadi di hidup saya. Ada banyak orang memang berbeda pendapat dengan saya, ada banyak orang yang tidak menerima dengan pikiran saya, tidak menerima hal-hal yang saya lakukan. Tapi melalui program pertukaran pelajar, ada satu prinsip yang terus saya pegang hingga sekarang: Apapun yang dikatakan orang, entah saya dicaci maki atau yang lainnya, yang tau dan bisa menggambar hidup saya hanya saya sendiri. Saya hanya hidup sekali dan saya menerima segala resiko yang saya lakukan karena itu yang saya inginkan.

Buat kalian yang pernah hadir di hari-hari saya selama saya duduk di tahun terakhir masa putih abu-abu saya, terima kasih.


Friday, June 26, 2015

Exams: Study, Study, Study...

Hallo! So, last week I got exam here. Well, I actually don't want to take exam, of course. But AFS asks all exchange students in Flanders to take it. It's an obligatory. So, I made a negotiation with my school as I don't really study here and my Dutch is still bad. Hahaha.. I may take only some exams that I want. Haha. Then I chose Science, Maths, English, and History. The rest, such as Social Science, Geography, and French, I just come with some books to read while my friends are doing their exams. Actually I also don't want to take Dutch as it is about literature and the words are still difficult to me. Dutch exam took 4 hours. During the first 2 hours, I read the books that I had brought from home. But suddenly, my Dutch teacher came to me and asked me why I didn't take the exam. Then I said my reason. But she said, "Okay, but in the next 2 hours you have to take it. It's only listening and reading" Oh shit! -_-

So, what is the difference between the exam in Indonesia and Belgium? Well, there are some points that I notice. First, for exam in June, they study really hard. They even start to study a couple of weeks before they start their exam. This exam is really difficult for them because they need to learn what they have learned from January until June. The teachers here don't give tolerance to the students who get bad score. In anyway they will stay in that grade if they get bad score. Second, they don't have multiple-choice questions. All of them are essay questions. So, we need to really understand what we've learned in the class. Third, mostly we need to analyse the questions first. Then we have to connect it with what we've learned in the class. And the last, in the last page there is always a column where we can full in like "According to me, I will get score ..." or "The next time, I should do ..." It's like an evaluation for us. So, we realize about the way of our studying. In other schools, some my friends also had oral exam. So, the teacher will ask you directly and we have to explain it. It's quite scary, but I think from that, we have more confidence to speak in front of the people.

Now, it's already holiday! I'm so happy that I've done with school! Next week, I'll get my report. Hopefully it is good haha.. And it's time to have fun before I go home.. I still have 2 weeks here anyway.

Sunday, January 25, 2015

België? Dat Is Mijn Tweede Thuis!

Hi! We meet again. It’s already around 5 months I’m here. Time flies so fast! I hate it so much. Many things happened to me during these 5 months and almost all of it are new for me. Actually, I don’t really want to tell it because my English is getting worse here, even my Indonesian! Am I lying? No, it’s really true! I still remember when my Indonesian friend asked the time to me and I don’t know to say it in Indonesian. I also ever wanted to write an email to my Indonesian friends, but… after I wrote one sentence in Indonesian, I didn’t know anymore how to write in Indonesian, even in English. I was so lazy at that time to open my lovely Google Translate, so I didn’t send it. Hahaha…

Living in a country where has 3 national languages, as I said before in my last newsletter is unique but also complicated for me. The majority languages here are Dutch and French. Almost everyone here can speak both beause they learn it at school. I’m really proud of being an exchange student in Belgium because I don’t only learn to speak Dutch but also French a little bit. Every product here has writing in Dutch and French. I live in Flanders - a Dutch-speaking region – so you will see the advertisements in public places in Dutch. While in Brussels, the capital city of Belgium, has Dutch and French speaker over there. So, the advertisements will be in Dutch and French. Even in the train station, if they want to say the departure of the trains, they will say it in Dutch and French. And if I go to the south of Belgium, Wallonia – the Frech-speaking region – it’s better I speak English than my bad Dutch. Based on it, I’m really proud of being Indonesian which only has 1 national language. I can’t imagine if every dialects in Indonesia become national language…

In Indonesia, it’s not really common to use calculator, especially in the exam. We are used to calculate by ourselves on the paper. But in Belgium… You can use it as you want, they even use it in the exam. And what makes me become lore impressed is the calculator can make graphic! First time when I saw it, I said, “WHAT??!!” I really never see that in Indonesia. I was thinking that I was so tired to calculate, especially in the exam and must search how the graphic will be and draw it by myself. And now, I see everyone use their calculator in the exam and they just copy the graphic from the calculator into their paper. They also bring only some papers of the books everyday. I mean, their books are easily to rip. So, they will take only some pages from the books that will be learned by them in school and put it in a binder. So, if they have thick books, they don’t need to bring all the books to school like us in Indonesia, only the binder with some pages. It’s really more comfortable!As you know, western people really like walking or using public transportation and now I MUST DO IT TOO. If in Indonesia, my dad will bring me to school and pick me up again by car, now I must walk every morning to school because it’s close to my house, around 10 minutes by foot. If I go further, I must use bicycle or walk to the station and take the bus. In the beginning, it’s really hard for me, I’m really tired because in Indonesia, if it’s even 10 minutes by walk, you still use motorcycle or car! But now I already use to it. Moreover, I think it’s good for my health. Oh ya, being on time is very important here. For example, taking the bus or train. If you’re not on time, you have to wait it again for one hour. Or maybe you have an appointment with someone and you’re late, he/she will be really disappointed to you. They also don’t care if you are an exchange student with “late” culture because I live in a new culture, not in mine anymore.

Maybe you also know that western people have "table manner" which must use fork and knife. That's what I do also here. If in Indonesia I usually use hand or spoon and fork, now whatever is the food, if it's pasta, fish, chicken, or anything else, I have to use fork and knife like them. Beside that, Belgian also use to drink alcohol or something with soda when they are eating. I ever went out with my family, everyone choose the drinking with soda while me, only order water. Oh yeah, they also have 2 kinds of water here, the usual water and water with soda -__________- I ever tried water with soda and I didn't want it anymore. I think it will be my first and the last water with soda -___-

In the beginning of December, there was exam in my school. Because I'm still a beginner, it's really hard for me to understand the lessons and AFS asked us, the exchange students who didn't want to take exam here to do a social work as volunteer. So, during my friends had exam, I worked in OCMW Genk, it's a place for old people to eat, learn how to use computer, learn languages or even play cards with their friends. I worked to served coffee or tea in the cafeteria of it. 2 weeks there was very priceless for me. Many things I learned, especially from the volunteers over there. They work also like me but they also old people. I asked them why they still want to do it while they are also old people as people they serve. They even said to me they already work for years, even more than 20 years. And they answered because they like to do it. They are happy if their friends are happy. WHAT A WONDERFUL ANSWER! Actually I really didn't want to work over there because I serve old people which are very annoying for me. But because of the volunteers I met over there, I learn that VOLUNTEER=HEART. We need our heart to do volunteering. Now I also understand why people want to be volunteers in AFS or maybe why my host family or other host families want to host us. It's because they have their heart in it. VOLUNTEERS ARE REALLY PRICELESS!

Two days before Christmas, the family from my host mom came to our house. They are really nice and friendly. We did many things. We talked together, young people got presents from the older people, the kids read a letter for the family as Belgian tradition here, and played cards together. It was really fun! I felt like they are also my family. While in the New Year's Eve, I went to Brussels. I met my Indonesian friends over there. We talked everything and ate very much because we needed to go to restaurant to get warmth hahaha... In the midnight, we saw the fireworks. It was beautiful and I was really happy because that was my first time to celebrate New Year abroad.

Now, it’s already winter here. Winter starts on 21st December every year. I was really excited in the beginning December. I really hoped there will be snow because many people say in 2013, there was no snow. But… ON 2nd DECEMBER 2014 MY FIRST SNOW FELL!!! It was in the evening. After dinner, my mom went outside and she said, “Benny, it’s snow!” I was surprised and ran outside directly! I saw everything is almost white! I was really happy although it’s not too much. I took many photos of it. Hahaha… After that, there was no snow anymore. But in the winter break, OH GOSH! THERE WAS SO MUCH SNOW! It was like my best Christmas gift ever. Every new thing that I find here is really unique and awesome. Altough sometimes I find something different with my personality or my culture, now I’m falling in love with Belgium. Now I can say, BELGIUM IS MY SECOND HOME!PS. Sorry I don't have time to post the photos. I need to sleep now but I promise to post it asap. Good night!

Tuesday, September 23, 2014

Ik Ben Dankbaar

"Ik ben dankbaar" means I'm grateful. Why? Because yesterday I'm officially 1 month here and many things happened this great month! Before I tell you my story here, I have to say sorry if my English is so bad. Hehehe...

So, after I met Bompa in Genk, we went to Maasmechelen, a city where I will live for next 10 months. Maasmechelen is located in Limburg province and it's very near to Maastricht (Netherlands) and Aachen (Germany). It's a city, but you still can see many farms, cows, horses, and sheeps here. Even on the night, there is no car on the street. Oh ya, there's no traffic jam too here. It's totally different to my city in Indonesia, but I really love this city!

Between Maasmechelen and Netherlands, there is a river and look at that! That's Netherlands ;)

Way to Aachen and Maastricht



My house is very nice! My house is located near to town hall (Although near to town hall, there are horses near my house guys haha -_-). My house has two floors, all the rooms in second floor is for me. I have bedroom, studying room, bathroom and toilet there. It also has large garden and all of stuffs here are worked with technology. I mean like to open the gate, there is a code to open it or there is a washing machine for dishes, glasses, etc.

My house from the garden
In front of my house
The town hall from my house
The town hall
In my first week, the school had not started. So, Bompa introduced me to all people here. Btw, I think he is very famous here because many people know him. Yeah, not only him but all Colson family. I'm proud to be the part of this family. Hahaha... In this week, I also met his family, especially his children's family. He has 3 children:

The first is Jan. He lives in Maasmechelen. We often go to his house. Jan has 2 children, 1 boy and 1 girl. They study in high school now, but not same as my school. They are very nice to me. Sometimes we chat in Dutch, it's very helpful to me to learn this language! :') His son, Tibo likes playing tennis. He even ever played abroad. Actually I never saw tennis match and I thought it was boring. But, there was a day he had tennis match and Bompa brought me there. And my thought is very wrong! Tennis is very awesome! His daughter is Marieke. Marie likes riding horse and I still don't know more about her because she's still shy to me. Maybe because of my good looking face. Hahahah... I'm joking!

Me and Tibo
Me and Marie
With Jan's family
First time watch tennis match and how proud I am, that's Tibooooo!!!!
The second is An. An lives in Genk. She has 2 daughters and they are very beautiful! I forget their names and I don't really know about them. But I know, her first daughter is still shy to me as Marieke and her second daughter really likes selfie. Hahaha... She is really typical of me. When she came to my house, she always takes selfie hahaha...

An's daughters


The third is Tom. Tom lives in Rekem, not really far from my house and we also often go to his house. Bompa really loves his grandchildren, that's why we often go to his children's houses. Tom has 1 cute son. His son really likes watching Boomba, it's a cartoon. Btw, Tom and his wife really look like my parents in Indonesia. I mean like his wife is very beautiful as my mother, his wife can cook, Tom and his wife also studied law in university as my parents, and I really like discussing with Tom as I do with my dad. Tom always asks about my life here, same as my father who likes asking how is my day everyday.

He is so cute, isn't he?
In the second week, I went to school! My school, De Helix is really awesome guys! I like the building although sometimes I lost there because it's too big. The school field is also very large. This month, we do run for sport class and it is so tired because of the school field! My first day was really good. I went with Evelien, she introduced me to my classmate. I join the 5HW, in Indonesia it's like the 2nd grade of social science. My friends are nice and funny! I have a friend, Nathan, he guided me to walk around the school. He told me evrything about this school and he introduced me to his friends in the other class. It makes me easier to make many friends. Thank you Nathan! In the first day, we did "team building" with our homeroom teacher, it's like an activity that aimed to know each other. In the second day, we started the school normally. Oh yeah, if you want to enter the school, you must have a key. It's a key to know your absence and to buy food/drink in the school. My school is indeed awesome!

In front of my school

My school from the back


The key



Homeroom teacher
After team building
On Saturday, I and Nathan went to scouts. The scouts is cool! I met many people there. The scouts is divided into some groups, depend on the age. In my age group, they made raft and they went to a lake that is near to the basecamp of the scouts. They played there. Unfortunately, I didn't bring another clothes, so I didn't join them.






On Saturday in the third week, I went to Blotevoetenpad, it's an activity from my AFS chapter, MIL. We did walk without shoes, only with your feet. The place was really amazing!!!














On Saturday in the fourth week, I went to KSJ, it's a group like scouts. They are also cool! And again, I met new people here. This group is smaller but very awesome! They are very friendly and funny! We went to volleyball competition. It's a compettion for all groups like scouts or KSJ in Maasmechelen and around it. Actually I never play volleyball, so before they played in the competition, they taught me how to play it. It's really cool! I must be able to play it before I go back to Indonesia. Oh yeah, in the competition, KSJ is the 12th winner. Hahaha... I know it's bad but it's not real competition guys, it's just for fun and I like to be like that! Go KSJ!











Oh yeah, about the language. Actually my Bompa almost cannot speak English well. So, he always speaks Duch to me. Everyday I open the dictionary that was given by him on the first time we met. I try to understand what he said and talk with Dutch. In the first week, it's really hard :') When I told something in English, he didn't understand and so did I when he told something in Dutch to me. But day by day, I start to understand what he said. And do you know, he really wants me to be able speak Dutch well in November! Oh my God -_- He always asks me to watch news every evening and asks me to speak in Dutch to everyone. If he hears I speak English to someone, he will says, "Hey, Nederlands praten ya!" which means "Hey, talk in Dutch ya!" -_- Oh ya, here every Wednesday and Friday I always go to Hasselt for Dutch lesson from AFS. I always go by bus and I really like the trip from Maasmechelen to Hasselt because I will pass Albertkanaal, it's very beautiful! Oh ya, now I know why people here are always on time and seems individualist. Let me give an example from my experience. So, on last Friday, after I had Dutch lesson, I wanted to go back to Maasmechelen. But before I went to the station, I talked too long with my friends. I knew that my bus will arrive at the station soon but I still talked. In my mind, "Ah, it's not problem, there are still many buses to my city!" which typical of Indonesians' mind. After I arrived at the station with my friends, my bus had gone and in fact I had to wait 1 hour more for the bus while actually I have an appointment to have dinner together with my family and do you know what? The bus of my friends had not arrived at the station when we arrived there. When the bus arrived, they left me alone. So, in conclusion I must be on time here and don't care about other people when we talk about the bus!


My dictionaries
Albertkanaal!
Waiting for the bus
If you want to stop in the next halte, press the blue button ;)



Oh ya, there's also I want to talk about. So, last year, there was a student from Indonesia in my chapter, her name is Sarah. The volunteers here say that she was really good! She was an active girl and she almost can speak all Dutch words. It's really a challenge for me that my Dutch must be like hers or maybe better than. So, you, Kak Sarah, I'll beat you! Hahahaha...